kisah mereka

17 Agu

Bocah kecil itu berparas lumayan, dengan hidungnya yang mancung juga kulitnya yang hitam, Nampak terlihat dia bukan asli dari daerah Bandung. Mungkin Palembang, atau Padang.

Umar adalah sebuah nama yang dia sebutkan saat ditanya tentang siapa namanya, Cianjur tempat asal dia tinggal bersama kedua orang tuanya. Joglo kalau tidak salah nama daerahnya di Cianjur itu. Berdasarkan kisahnya, dua tahun dia terjun kejalan, meninggalkan rumah dengan segala polemiknya. “ibu kawin lagi ka dan aku kabur dari rumah…”

Begitulah, kasus anak-anak itu. Terjun ke jalan karena kabur dari kenyataan bahwa  orang tua cerai dan kawin lagi, tidak merasa rindu rumah apatah lagi berkeinginan untuk pulang lagi. Sekolah, keluarga, dan segala kenyamanan dalam keluarga mereka tinggalkan begitu saja tanpa rasa perduli. Lebih nyaman hidup di jalan yang bebas tanpa aturan. Buat apa?

Alasan lain yang paling mendominasi keberadaan anak-anak itu di jalanan ialah faktor ekonomi. Tak jarang diantara mereka menjadi tulang punggung keluarganya. Tak perduli berapa usia bocah itu, tak perduli laki-laki atau perempuankah bocah itu. Yang penting mereka memiliki setoran yang banyak hari ini. Lebih banyak lebih bagus, berarti berkuranglah jumlah pukulan di pantat mereka. Sedangkan para orang tua menunggunya di pinggir-pinggir jalanan dengan penuh harapan anak-anaknya memberikan jumlah setoran sesuai dengan kesepakatan, jika kurang “tidak ada jatah makan bagimu hari ini, nak…silahkan mengamen lagi!!!semakin engkau kelaparan semakin mahal wajah memelasmu itu…”

Di sisi lain sudut rumah sakit itu, tempat kami belajar. Terlihat seorang anak dengan wajahnya yang penuh memar disana-sini. “aku habis digebuggin ka…” entah siapa orangnya, si anakpun tak tahu karena memang dia digebuggin saat dia sedang tidur dengan tanpa alasan yang jelas mengapa dia harus digebuggin seperti itu.  Hanya rivanol yang kemudian menjadi obat bagi lukanya yang telah mulai mengering, darahnya ikut mengering sehingga sulit membedakan mana darah mana luka. “udah ka, sakit…perih…” akhirnya dia menolak untuk diobati karena perih dan sakitnya. Padahal betadine belum sempat menempel di lukanya itu. Maaf…

“kaakaaakkk…aku ingin belajar…” seorang bocah lain berlari, menghambur memeluk dengan penuh keakraban.  SEMANGATnya itulah, yang menjadi alasan untuk tetap belajar dari mereka, tentang apapun.

Maaf kalau kemudian sudah 2 kali pertemuan kita tidak menggelar sholat maghrib berjamaah di halaman dustira tempat kita belajar. Dengan segala keterbatasan ini, maafkanlah…

___dustira, Rabu 07 April 2010___

2 Tanggapan to “kisah mereka”

  1. abah aryana 29/08/2010 pada 10:50 pm #

    Alam raya ini merupakan keterpaduan dari berbagai keharmonisan. Allah SWT menciptakan dengan sempurna tanpa cacat. Sebagai khalifah di muka bumi, apabila kita sebagai ulil albab yang mampu menerjemahkan ayat ayatNya, kita akan senantiasa melakukan upaya mewujudkan keadilan, kesejahteraan dengan berbagai potensi yang tersedia di alam ini. Ingatlah…. upaya yang dilakukan oleh Rumbel Sahaja Cimahi saat ini dan yang akan datang tidak sendiri. keharmonisan dari berbagai potensi akan memunculkan kekuatan yang dapat mempercepat impian anak jalanan menjadi anak yang mempunyai kehidupan wajar sebagaimana anak lainnya.
    Semoga !

    • cimahibelajar 01/10/2010 pada 6:11 pm #

      amien…semoga saja pak…
      jangan pernah menyerah untuk terus ada bersama kami…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: