perjalanan cimahi belajar

17 Agu

Hari itu jumat, 02 April 2010 setelah berkunjung ke rumah salah seorang relawan ciroyom yang mengadakan acara syukuran atas wisudanya. Entah kenapa tiba-tiba saja aku melesat menuju sebuah tempat, bertanya tentang sebuah alamat orang yang dianggap penting dalam kapasitasnya sebagai orang yang mengabdi pada Negara. Seorang satpam mengantarkan aku menuju rumah seorang abdi Negara itu dan meninggalkanku dengan senyuman dan beberapa nasihat.

Seorang wanita paruh baya membukakan pintu setelah beberapa kali ketukan di pintu juga ucapan salam. Maka diutarakanlah maksud dan tujuan kedatanganku mengunjunginya, memperkenalkan diri, dari mana asal, siapa tamunya ini. Dia mulai paham setelah penjelasan itu, dimana sebelumnya dia begitu mencurigai kedatanganku dan hampir menolak kunjunganku yang ingin menemui suaminya. Hahahhahah…tenang ajah bu, aku tidak ingin meminta sumbangan disini.

Beliau mulai begitu sangat ramah setelah aku mengiyakan bahwa yang masuk tv itu memang anak-anak yang bersamaku. Begitulah manusia kebanyakan yang pernah kukenal, padahal tidak ada kehormatan apapun dari kotak ajaib itu, hanya sekedar memberikan informasi, bahwa kami benar2 ada. Semakin lama sang ibu itu semakin larut sibuk dengan kisah2nya. Senyum…

Tak lama berselang seorang bapak dengan wajah penuh brewokan dan jenggot yang sangat lebat muncul dibelakang si ibu. Dengan lantangnya dia bertanya “ada apa ini, ada apa ini???”

Senyumku dengan tulus menyambut kemunculan si bapak. Aku kembali menjelaskan siapa aku ini…

“ahhh sudah-sudah, anak-anak macam itu mah tidak akan bisa diberi pembelajaran, mereka kotor, hobinya ngelem, bikin resah masyarakat ajah. Saya tidak ingin bantu…” dengan muka penuh emosi, tangan terangkat keatas, dia bangkit dari duduknya dan (seolah) mengusirku.

Si ibu dengan bijaknya menjelaskan perlahan agar si bapak mengerti. Meski pejelasannya lebih di dominasi karena kami pernah masuk ke dalam kotak ajaib yang pernah ditontonnya beberapa waktu lalu. Si bapak sedikit meluluh,  meski tetap saja dia nampaknya memang tidak ingin membantu. Ditambah lagi, ternyata aku salah alamat, bapak itu  bukan ketua RT 01 tapi ketua Rt 03 sedangkan wilayah Rumah Sakit Dustira masuk ke dalam wilayah Rt. 01. Akhirnya si ibu mencarikanku seorang anak yang bisa mengantarkanku menuju rumah ketua Rt. 01 yang kemudian baru aku ketahui bernama Pak Shiw**.

Seperti kejadian tadi, yang membukakan pintu rumah adalah sang istri dari suaminya. Ibu  tadi sudah mewanti-wanti aku tentang kemungkinan kejadian apapun yang akan terjadi disini, dikarenakan para ketua Rt sewilayah itu baru saja pulang dari melaksanakan pelatihan yang digelar selama 3 hari di satu daerah yang aku tak tahu dimana itu. Katanya, kemungkinan beliau masih capek, mungkin mereka tidak ingin menerima tamu, tapi dicoba saja.

Entah karena tampangku lebih mirip sales atau tukang peminta-minta sumbangan, ibu yang ini tak jauh beda ekpresinya dengan ibu yang pertama. Lebih parah malah. Bahkan dia sempat tidak ingin melanjutkan pembicaraan saat perbincangan kami sampai pada pembahasan tentang anak-anak jalanan cimahi yang ada di dustira.

“ah itu mah bicaranya sama bapak ajah…” dia terlihat begitu sewot, acuh.

Datanglah pak shiw**, bertanya tentang duduk perkaranya dan mempersilahkan aku masuk. Si ibu masih dengan emosinya, nyerocos membicarakan tentang semua keadaan anak-anak, yang dekil_lah, yang kotor_lah, yang ngelem_lah, yang nyuri_lah, dan semua yang jelek2 tentang anak-anak.

Pak  Shiw** memotong pembicaraan istrinya, memintanya mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh suaminya itu. Beceritalah Pak Shiw** dengan penuh panjang dan lebarnya, menggebu-gebu dan bersemangat, menasihatiku panjang lebar, bahwa yang seperti itu tuh buat apa, ada untungnya nggak, susah anak-anak macam mereka diberi pembelajaran, ga akan masuk, cape-capein diri sendiri ajah. PERCUMA.

Si ibu sesekali ikut nimbrung dengan menceritakan beberapa kejadian yang pernah dialaminya terkait anak-anak tersebut, yang dia pernah suatu waktu menemukan jemurannya tak lagi utuh, yang dia kemudian menemukan siapa pelakunya, yang dia kemudian mengejar si maling dengan ujung sapunya hingga tertangkap, menyuruh si maling bertanggung jawab dengan memerintahkannya membersihkan wc rumahnya.

Terlihat begitu jelas emosinya, saat dia menceritakan bahwa di halaman belakang rumahnya itu dia pernah menemukan seonggok barang yang tak seharusnya ada disana, karena bentuknya yang menjijikkan, karena baunya yang menyengat, karena barang itu hanya buangan, TAHIK… bayangkan betapa marahnya dia!!! Dan dia menasihatiku untuk tidak terlalu dekat bergaul dengan mereka.

Dan kemudian Pak Shiw** memberikan tambahan  juga yang menceritakan bahwa dalam waktu dekat pemerintah kota Cimahi akan mengadakan razia besar-besaran di daerah dustira itu untuk mengangkut seluruh anak-anak jalanan yang ada disana. (berita ini kemudian akan aku sampaikan kepada anak-anak agar mereka lebih berhati-hati saat mengamen atau saat berada dimanapun, tapi sebelum berita ini sampai ke telinga mereka, telingaku sudah lebih dulu mendapatkan kabar bahwa para “trantib” itu tidak berhasil menangkap mereka saat razia digelar hari sebelumnya, karena anak2 itu terlalu  cerdik, untuk mengelabui sang “trantib” mah kecil, ga ada apa-apanya bagi mereka, dan tidak ada satupun dari mereka yang tertangkap, padahal ada 3 truk berkapasitas besar untuk menangkap mereka dalam razia itu. Dan mereka telah DIPECUNDANGI oleh anak-anak itu. JAGOAN.)

Akhirnya aku jelaskan perlahan-lahan dengan penuh sopan dan santun kepada mereka, tentang keadaan anak-anak selama ini, bagaimana awal terbentuknya, kenapa bisa di dustira, siapa yang ada di balik proses pembelajarannya, sejak kapan kami mulai belajar, siapa saja anak-anaknya, dan siapa saja relawannya, juga dari mana asal mereka.

Perlahan, si ibu dan bapak mulai mengerti. Perlahan meluluh juga hatinya, dan kemudian menasihatiku panjang lebar kembali. Agar aku tidak sendiri saat harus mengunjungi mereka atau saat mengajari mereka tentang apapun, minimalnya ada seorang cowok yang menemaniku mengajar. Dan aku hanya tersenyum dan mengatakan, “tenang ajah bu, memang ada relawan cowoknya ko, dan setiap kali mengajar aku tidak sendri…”

Begitulah perbincangan terus berlanjut, dari mulai emosi, rasa takut, kecemasan, keberanian yang tiba-tiba, NEKAD, hingga luluh, juga segala petuahnya. Saat sayup-sayup adzan maghrib mulai terdengar, akupun berpamitan dengan menyelipkan sebuah pesan pada mereka…

“jika ibu atau bapak menemukan kejadian yang kurang berkenan tentang anak-anak, atau menemukan anak-anak dengan kriminalnya, atau menemukan yang berwenang mencari-cari seseorang yang bertanggung jawab, maka sayalah yang akan bertanggung jawab. **** nama saya.”

Tidak mengapa, asal aku masih tetap mendapatkan izin dari sang empunya rumah untuk bisa mengunjunginya di kapanpun aku mau di sewaktu-waktu jika aku membutuhkan untuk mengunjunginya. Mungkin suatu saat nanti aku datang lagi ke rumah ini untuk memberikan data hasil yang aku peroleh tentang anak-anak itu, daerah asalnya, keluarganya, juga alasan keberadaannya di jalanan. Atau mungkin saja aku akan mengunjungi rumah ini untuk sekedar meminta petuah dan nasihat dari mereka…

___Terima kasih Pak Untu** juga istri, Terimakasih Pak Shiw** juga istri___

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: