cerita satu malam

28 Sep

Lembang

hujan yang dingin dan tiada henti selalu berhasil membuat rasa cemas ini berkecamuk…

Maju mundur aku menghitung waktu, berdetak, plin plan, iyah tidak, ikut tidak. TERDIAM…

Tak banyak persiapan yang aku miliki untuk bisa mengajak mereka berlibur bulan ini. Maka bagiku lembang adalah tempat yang tepat untuk kami kunjungi, mengingat keterbatasan relawan yang hanya tersisa tinggal aku seorang. Sore itu, langsung aku putuskan “kita jadi berangkat ke Lembang”…Hanya beberapa jam saja aku mempersiapkan semuanya sendiri. Tapi alhamdulillah…

Setengah dua siang kami berangkat, anak2 sudah siap di depan pure dengan angkotnya tinggal menunggu keberangkatan saat aku datang menemui mereka. Tidak banyak hal yang aku persiapkan, aku hanya bertanya pada teteh tentang karpet, makan anak2, dan beberapa hal lainnya yang menurutku penting untuk ditanyakan. Saat kurasa semua telah siap, maka aku meminta mereka berangkat duluan. Aku masih ada keperluan lain.

Hujan begitu lebatnya turun tiada henti. Sepanjang perjalanan, aku mencemaskan keluargaku yang lain yang pergi berkemah ke manglayang. Apa kabar mereka???kehujanan kah???ah…semoga baik2 saja…

Sampai di Lembang kami rehat sebentar di rumah bu Ai teman kuliahku. Kemudian langsung menuju tempat pamondokan yang akan menjadi tempat tinggal kami semalaman ini. Segala peralatan memasak kami pinjam dari bu Ai ini, yang kami bawa hanyalah kompor gas saja. Anak2 berangkat duluan, entah nyasar atau tidak karena para penunjuk jalan berjalan belakangan. Tapi sungguh luar biasa, ternyata mereka sampai juga ke tempat yang dimaksud. Dan yang lebih luar biasa adalah, ternyata mereka sudah langsung menjeburkan diri ke balong yang ada di depan pamondokan. ckckckckkcck…dasar anak2…

jebur di balong

dan Berkumpulah kami, yang menjeburkan diri aku suruh mandi dan ganti baju kemudian sholat ashar. Sementara mereka menikmati pemandangan disana sambil mengantri mandi dan sholat ashar, aku bersama satu relawan lain dan dua anak pergi berbelanja kebutuhan makan dan jagung bakar. Pukul delapan malam kami baru kembali ke pamondokan, anak2 sudah selesai makan, berkumpul di sudut ruangan, bernyanyi dan tertawa bersama. Di samping pamondokan beberapa anak terlihat asyik dengan api unggunnya, ada yang hanya sekedar menghangatkan diri dan bahkan ada pula yang mengeringkan celana dan pakaiannya yang basah.

Kumpul Ngariung di depan pamondokan

Ngagaringkeun lancingan dina api unggun

Malam itu, bersama gerimis yang kadang masih suka turun, aku berkumpul bersama mereka di sudut ruangan itu. Ditemani jagung rebus yang manis juga beberapa cemilan kami saling bercerita. Setiap anak aku bagi menjadi 6 kelompok yang terdiri dari 3 orang setiap kelompoknya. Setiap kelompok diwajibkan menampilkan yel2nya masing2, memberikan kami sebuah lagu, bercerita tentang hal buruk yang ingin dihilangkannya, mengungkapkan harapan2nya, dan kami saling bertukar cerita. Ini malam yang sangat luar biasa bagiku. Mereka begitu terbuka dan menceritakan apapun yang mereka inginkan. Terharu. Mereka ungkapkan tentang berapa jumlah lem dan destro yang biasa mereka minum. Dan mereka berjanji untuk sedikit demi sedikit mengurangi kebiasaan buruk mereka itu hingga kemudian tidak sama sekali.

berapi unggun bersama

Curhat bareng sambil ngunyah jagong...

sholat berjamaah

Akupun berjanji pada mereka untuk merealisasikan keinginan dan harapan mereka masing2 asalkan mereka benar2 memegang janji mereka untuk mengurangi kebiasaan buruk mereka yang suka ngelem dan destro. Mereka minta dibelikan peralatan musik untuk ngamen, beberapa hasilnya akan mereka sisihkan untuk tambahan uang kas. Selain peralatan musik, mereka juga minta dimodali peralatan dagang untuk berdagang asongan di kereta atau mobil. Keinginan yang kuat dari mereka agar tidak terus menerus hidup dijalan inilah yang membuatku merasa perjalananku selama ini tidaklah sia2. Ingin sekali rasanya menceritakan pada orang2 itu yang mengatakan bahwa keberadaanku disini sia2. Aku ingin mengatakan pada mereka, selama aku hidup di jalan, aku tidak pernah menemukan kesia2an seperti apa yang kalian tuduhkan…

Semalaman itu, kurasa mereka tidak tertidur. Dari balik bilik kamarku, aku mendengar mereka masih bernyanyi, sebagian yang lain membuat kopi dan teh manis, bahkan ada yang membuat nasi goreng. Sedang hujan masih saja turun dengan derasnya, menggelegar. Aku kembali teringat manglayang, “Tuhan, semoga mereka tidak kedinginan, berikan yang terbaik untuk mereka”…

Shubuh…

Bangunlah dek, ayo sholat shubuh berjamaah.

Matahari mulai menyapa dengan sinarnya. Teteh mulai memasak nasi dan mie untuk sarapan dibantu oleh kawan relawan lain. Dua anak yang gede2 aku minta untuk pergi ke pasar beli ikan dan bumbunya. Aku mengajak anak2 untuk melakukan permainan perang air disamping balong. AKu bagi anak2 menjadi empat kelompok. Dua kelompok saling berhadapan dengan jarak 10 meter. Setiap kelompok memiliki satu balon berisi air yang akan menjadi jimatnya yang disimpan di tengah2 mereka, balon ini harus mereka jaga dari serangan musuh. Mereka juga dibekali 9 amunisi bom air plastik untuk dilemparkan terhadap musuhnya, setiap anak yang terkena lemparan bom maka anak itu akan dianggap mati dan tidak boleh mengikuti permainan lagi. Jika bom mereka telah habis, maka setiap kelompok diharuskan untuk memecahkan balon lawan, balon mereka yang masih utuh maka kelompok itulah yang menang. Dan permainan ini dimenangkan oleh kelompok Ujang jablai.

Permainan selanjutnya adalah lomba menangkap ikan di balong. Masih dengan kelompok yang sama. Mereka diharuskan menangkap ikan di balong tersebut. Kelompok yang paling banyak menangkap ikan maka kelompok itulah yang menang…Hampisr setiap anak menikmati permainan ini, mereka tertawa bersama, saling banjur, saling jebur, mencari ikan kesana kemari sampai ikannya mabuk. Dan pemenang dari permainan ini adalah semua kelompok. Karena terjadi kekacauan, semua kelompok ikut turun mengambil semua ikan… hahai…terlalu bersemangat mereka itu…

Lomba ngambil ikan di kolam

Ada limabelas ekor ikan yang akhirnya tertangkap mereka. Satu anak bertanya “ka, aku boleh minta satu gak buat dibakar?” aku jawab “boleh”. Dia sangat senang sekali nampaknya, dan yang lainnya malah ikut2n, jadilah setiap anak mengambil satu ikan dan membakarnya. Beruntunglah lima belas ekor ikan yang besar2 sudah disisihkan untuk dimasak dan  dimakan sebelum pulang.

bakar ikan

nyicipien ikan bhakarrrrrrrr

Setengah satu siang kami kembali menuju rubel. Dan langsung melakukan penyambutan untuk kawan2 UPI yang hendak melakukan baksos. Beberapa dus besar dan kecil berisi baju2 kami terima dari mereka. Terimakasih kakak…

Baksos PLB UPI

Hari yang indah bersama kalian…Terimakasih semuanya…

Terimakasih Teteh sekeluarga, kak Santi, Juga adik2ku semuanya…

Kita adalah keluarga, jangan lupa untuk saling tolong menolong diantara kita, jadilah yang terbaik, baik-baik selalu eah…

Salam manies…

🙂

Lembang, 25-26 September 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: