Tersesat di Rubel Sahaja #1

28 Mar

Koran pikiran rakyat itu terbit di hari kamis tanggal 6 Mei 2010. Berita dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat memang benar adanya. Di mainstream koran itu tidak ada yang menarik perhatianku untuk dibaca. Ada dua helai empat halaman dengan subjudul Kampus. Ya, kampus sebuah deretan huruf yang membuat saya iri. Karena tanggal itu mepet ke tanggal ulang taun Ki Hajar Dewantara 2 Mei, maka tema umum di Koran pikiran rakyat kampus tersebut tentang pendidikan. Ini bukan hadiah kado di ulang taun Bapak pendidikan itu, karena Ki Hajar Dewantara tidak sedang merayakan pesta ulang tahunnya. Seandainya dirayakan tentu bukan tulisan ini hadiahnya, dipastikan telor, air, terigu yang mendarat di sekujur tubuhnya dan berbahagialah Bapak kita satu ini. Tetapi ada kerumpangan yang janggal bukankah nama aslinya Raden ‘Mas’ Soewardi Soeryaningrat, terus nickname-nya ‘Ki’ Hajar Dewantara dan gelarnya ‘Bapak’ Pendidikan Indonesia. Saya yakin Mas, Ki, dan Bapak itu memiliki gradasi kasta yang berbeda. Tidak sopan seorang anak(‘bapak’) disetarakan dengan orang tua(‘ki’), dan yang muda(‘mas’) tidak tahu diuntung berani melangkahi ‘bapak’ untuk menyaingi ‘Ki’. Sungguh keluarga yang tidak harmonis.

Ada mata rantai seperti ikatan alkana antara tanggal 2 Mei, Ki Hajar Dewantara, Hari Pendidikan Nasional, 6 Mei 2010, Koran pikiran rakyat subjudul kampus. Dengan gugus fungsi Hari Pendidikan Nasional pada rantai terpanjang maka senyawa ikatan ini membentuk nama senyawa Rubel Sahaja. Darimana asal usulnya bisa terbentuk Rubel Sahaja, entahlah. Karena nama itulah yang menjadi trade topic di Koran kampus itu. Bila kalian kukuh ingin mencari alasannya, maka carilah alasannya di penulis artikel Rubel Sahaja itu. Ya, karena kami hanya pembaca yang tidak punya kuasa apapun atas tulisan itu, maka sudah saya terima saja nama dan tulisan Rubel Sahaja itu.

Saya menjadi tersesat dalam kubangan Rubel Sahaja, seandainya saja tanggal 6 Mei itu saya tidak terhipnotis pikiran rakyat itu mungkin sudah lain ceritanya. Sehingga terngiang-terngiang Rubel Sahaja di mindakku. Sehingga membuatku ingin bertanya tentang Rubel Sahaja itu, tapi mau bertanya pada siapa. Akan mencari, tapi harus dicari kemana. Rasa penasaran ini, sudah berada pada fase kulminasi. Oh, seandainya isi otakku terganggu karena Rubel Sahaja itu maka pikiran rakyat-lah yang harus bertanggung jawab. Termasuk juga penulis artikel Rubel Sahaja itu dan tentunya Ki Hajar Dewantara juga harus bertanggung jawab secara berjama’ah. Harus.

Man Jadda Wajada, kurapalkan mantra sakti kiriman dari negeri Arab Gurun, untuk mencari Rubel sahaja itu. Jika perpustakaan gudang ilmu maka kamus adalah pabrik kata-kata. Iya, gitu kamus pabrik kata ? Iyalah. First step to climb high mountain adalah membuka kamus. Dengan jasa kurir search enginee kupindai kamus, berharap menemukan Rubel Sahaja. Kusisir bagian R dari luar ke dalam, seperti penyisiran Colombus menemukan Amerika. Kata seperti tadi sepertinya tak efektif karena saya dan Colombus berbeda takdir. Dia dikenang lantaran berhasil menemukan Amerika, sedangkan saya tak menemukan kata Rubel bahkan untuk jejaknya pun tidak ada apalagi fosilnya. Kuhentikan perburuan di wilayah R berpindah ke daerah S, berharap dapat mengejar ketertinggalanku dari Colombus. Kembali kusisir ranah yang lebih dalam lagi, S untuk Sahaja. Alhamdulillah kutemukan kata Sahaja yang diartikan simpel, natural, apa adanya, atau berkecukupan. Tapi tetap saja itu sia-sia karena apabila disandingkan dengan kata Rubel yang belum diketemukan maka arti Rubel Sahaja itu menjadi kabur entah kemana. Rubel Sahaja tetap sebuah misteri gunung merapi.

Di zaman digital yang hanya berlaku dua angka 1 dan 0 ini, maka kuputuskan mencari tahu Rubel Sahaja di Internet. Loh, malah mencari tahu di internet ! sudah terlalu canggih-kah abad ini, sampai harus mencari tahu di Internet ? Bukannya tahu ada di pasar, tahu ada di Cibuntu, tahu di Sumedang, di Lembang juga ada yang serupa SPBU itu. AHH! eh, kan  ga boleh bilang Ahh, dosa itu.  Ehh, ya sudah kuputuskan kuhentikan mencari tahu Rubel Sahaja, karena sudah jelas 1 + 1 = jendela, tidak akan ada tahu yang bernama Rubel Sahaja. Huuhh

 

Cimahi 18 Maret 2011 08:21 p.m

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: