Kereta Sapu…

11 Mei

Beranjak malam seharusnya kau sudah terlelap

memeluk kencang tubuh seorang ibu yang penuh kasih sayang dan cinta

Tentu dia ibumu bukan???

Jangan pernah takut untuk pulang sayang

Dunia ini masih terlalu luas untuk kau tinggali sendiri

dan gerbong kereta juga sekelompok sampah

Biarlah berlalu tanpa batas dan ruang

Segeralah pulang, anakku!!!

“Masih banyak debu yang harus aku bersihkan kakak”

Begitu alasanmu ketika aku menyuruhmu pulang

Aku menutup mata dalam ketakutan

Takut melihatmu yang begitu kelelahan membersihkan sampah kereta

Gerbong ini terlalu panjang bagi tubuh mungilmu sayang

dan masih banyak gerbong-gerbong lain yang menanti dibersihkan

dan kau dan tubuh mungilmu dan lambungmu

Hanya mengandalkan belas kasihan tatapan nanar para penumpang kereta

Lalu kau terduduk dalam diam yang sunyi

Bahasamu hanyalah tengadah tangan tanpa suara

Matamu kemudian kembali tertunduk dan melanjutkan menyapu gerbong

Tidak ada yang perduli padamu sayang

Kau tahu???

Mereka masih saja membuang sampah sembarangan

Tanpa pernah mau tahu betapa ringkihnya tubuh mungilmu itu

Ilalang tak lagi bergoyang sayang

Angin telah hilang dari udara saudaranya

Tinggal sepucuk surat yang tergeletak di samping sapu patah tanpa srabut

“Mamah pergi anakku, bapakmu kawin lagih, mamah sudah tidak kuat lagi menahan beban hidup ini. Jangan pernah cari mamah kemanapun, karena keujung dunia manapun kamu mencari mamah, kamu tidak akan pernah menemukan mamah. Jaga adikmu baik-baik yah sayang…”

Si kecil tergugu tak karu-karuan

Dipeluknya bayi mungil dekil di dalam sebuah kardus basah

Hujan mulai turun dan membasahi semuanya

Diambilnyalah sebotol minuman yang ia minumkan pada adik kecilnya

Lalu ia tenggak habis sisanya hingga terkapar

Di botol itu bertuliskan

“Racun pembasmi tikus”

Merekapun mati kejang-kejang bersama hujan dan malam

Sapu itupun kesepian

“Selamat tinggal tuan” ucapnya dalam hati…

Seberkas senyum tanpa nama

hampir kehabisan kata mendongengkan kisah tentangmu

satu kata dariku

“Selamat Jalan sayang…”

_Cimahi saat inspirasi tertahan dan baru tertumpahkan sekarang di mei hari ketujuh 2011_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: